Benarkah Doraemon Berhenti Tayang di RCTI? Ini Penjelasan di Luar Nalar Versi Holidincom
Doraemon Berhenti Tayang di RCTI itu sebenernya kalimat sederhana, tapi efeknya bisa kayak gempa kecil di hati generasi yang tumbuh bareng TV tabung, antena tiang bambu, dan minggu pagi yang sakral.
Begitu denger kalimat itu, otak langsung nge-lag. Kayak ingin bertanya pada rumput yang bergoyang, "dunia ini masih baik-baik aja nggak sih?" Soalnya Doraemon di RCTI itu bukan sekadar acara TV.
Dia itu alarm bangun pagi versi nostalgia. Begitu lagu opening-nya masuk, badan refleks bangun walau mata masih 30% hidup. Bahkan ayam pun kadang kalah disiplin sama Doraemon.
Jadi ketika ada wacana “berhenti tayang”, rasanya kayak dikabari kalau matahari mau cuti dulu dari sistem tata surya.
Yang bikin sedih, Doraemon itu udah kayak properti nasional tak tertulis. Negara nggak pernah bilang, tapi kita semua sepakat: minggu pagi = Doraemon.
Yang bikin sedih, Doraemon itu udah kayak properti nasional tak tertulis. Negara nggak pernah bilang, tapi kita semua sepakat: minggu pagi = Doraemon.
Mau listrik mati, hujan badai, atau dunia ekonomi global gonjang-ganjing, Doraemon tetap muncul dengan kantong ajaibnya, seolah bilang, tenang gaes, semua masalah bisa diselesaikan dengan kantong ajaib, kecuali PR matematika Nobita.
Jadi ketika Doraemon “berhenti tayang di RCTI”, rasanya kayak ada lubang hitam yang tiba-tiba nyedot kenangan berjamaah satu generasi.
Anak-anak bingung, orang dewasa denial, dan TV mendadak terasa sepi walau volumenya udah full.
Lebih sedih lagi, Doraemon itu udah jadi patokan moral hidup. Nobita males? Iya relatable. Gian galak? Iya realita sosial. Suneo sombong? Iya kita pernah ketemu versi nyatanya. Shizuka? Simbol ketenangan yang selalu mandi di waktu paling nggak masuk akal.
Semua itu jadi semacam kurikulum emosional gratis tiap minggu. Tanpa sadar, kita belajar tentang persahabatan, kegagalan, dan betapa bahayanya alat canggih kalau jatuh ke tangan orang yang hobi rebahan.
Jadi pas Doraemon nggak tayang, rasanya kayak "sekolah kehidupan" libur tanpa pemberitahuan.
Lalu muncul teori-teori atom khas netizen. Ada yang bilang Doraemon berhenti tayang karena kantong ajaibnya bocor dan isinya jatuh ke dunia lain.
Ada juga yang yakin Nobita akhirnya lulus sekolah dan ceritanya dianggap terlalu dewasa untuk jam tayang pagi.
Bahkan ada yang percaya Doraemon sebenernya capek, pengen healing, dan sekarang lagi staycation di abad ke-22 sambil mikir, “ngapain juga nolong anak males dari abad lalu.”
Teori-teori itu tentu nggak masuk akal, tapi justru di situlah keindahannya—kayak logika kartun itu sendiri.
Yang paling aneh tapi jujur, Doraemon berhenti tayang bikin kita sadar: yang kita rindukan bukan cuma animasinya, tapi versinya kita yang dulu.
Versi yang nonton TV sambil selonjoran, nggak mikirin apapun dan percaya kalau semua masalah bisa selesai asal punya kantong ajaib dan pintu ke mana saja.
Sekarang alat ajaibnya udah ganti jadi notifikasi HP, tapi rasanya kok nggak seajaib itu. Jadi ketika Doraemon “menghilang” dari layar RCTI, yang sebenernya pamit itu masa kecil kita—dengan cara yang santai, aneh, dan agak laen.
Dan mungkin, di semesta paralel lain, Doraemon masih tayang tiap minggu pagi. Nobita masih teriak, Gian masih nyanyi fals, dan kita masih ketiduran di depan TV.
Cuma di dunia ini, kita harus nerima kenyataan pahit: Doraemon boleh berhenti tayang, tapi efek samping KB suntik 3 bulan bakal terus hidup di kepala kita, setiap kali denger lagu opening-nya, atau setiap kali kita ngerasa hidup terasa ribet dan berharap andai aja punya pintu ke mana saja.